Hamparan hutan yang hijau dan damai, hiduplah berbagai macam hewan. Mereka tinggal bersama tanpa ada rasa kecemburuan sosial, karena mereka memiliki pemimpin yang sangat adil dan bijaksana, bernama Raja Singa. Suatu hari, raja Singa mengumpulkan semua hewan.
“Kawan-kawan, musim kemarau akan segera tiba. kita harus mempersiapkam persediaan makanan agar tidak ada yang kelaparan” kata Raja Singa.
Karena sang raja hutan sangat terkenal dengan sifatnya yang adil, para hewan-hewan mulai mengumpulkan buah-buahan, biji-bijian, madu, dan berbagai makanan lainnya. Semua persediaan kemudian disimpan di sebuah gudang besar yang dijaga oleh Babi karena terkenal sifatnya yang baik dan tikus sebagai temannya karena dianggap mereka hewan yang sangat sedikit makan.
Namun, ternyata babi dan tikus memiliki sifat tamak yang tidak diketahui hewan-hewan yang lain. Pernah suatu waktu tikus dan babi pernah menipu seorang monyet yang sedang memanen pohon pisang, mereka mengatakan hendak membantu tapi nyatanya dalam sela-sela membantu tikus diam-diam menyelinap mengambil pisang dan dimakan bersama babi setelah selesai membantu monyet panen pisang.
Kembali ke persiapan para hewan-hewan mengumpulkan makan untuk kemarau, hari kemudian babi dan tikus mulai menjaga gudang penyimpanan makanan. Dan benar setelah makanan terkumpul dan hanya berjarak beberapa hari hingga kemarau datang babi dan tikus melancarkan misi mereka untuk mulai memenusi nafsu tamak mereka sendiri. Hingga hanya dalam sekejap makanan mulai berkurang sedikit demi sedikit “ah, hanya sedikit. Tidak akan ada yang tahu” pikir babi dan tikus karena terbuai dalam nafsu tamak mereka.
Hari berikutnya ia mengambil beberapa buah. Hari berikutnya lagi, ia mengambil biji-bijian. Makanan-makanan tersebut kemudian diberikan kepada teman-temannya sebagai imbalan agar mereka tidak menceritakan perbuatannya. Lama-kelamaan, persediaan makanan di gudang semakin berkurang. Hingga akhirnya musim kemarau tiba, Raja Singa meminta babi dan tikus membagikan makanan kepada seluruh hewan. “Baik, raja” jawab babi dan tikus terdengar gugup dan tidak yakin. Dan benar saat gudang dibuka, semua hewan terkejut.“Kenapa makanan kita tinggal sedikit?” tanya gajah, hewan besar itu sangatlah banyak dalam mengumpulkan makanan, karena ia tau makannya banyak, jadi dia mengumpulkan begitu banyak makanan dan air. “Benar! Padahal kita mengumpulkannya dalam jumlah yang sangat banyak” tambah monyet karena ia merasa mengumpulkan banyak makanan bersama gajah.
Raja Singa kemudian meminta kancil—hewan yang terkenal cerdik untuk melakukan pemeriksaan. Ia memeriksa catatan babi dan tikus lalu membandingkannya dengan jumlah makanan yang seharusnya ada gudang. “ada yang tidak beres,” kata kancil, ia menemukan keanehan dalam catatan dan olah lapangan dalam penyimpanan gudang makanan. Setelah melakukan penyelidikan, menemukan bahwa banyak makanan yang tercatat sebagai persediaan ternyata sudah tidak ada. “Yang Mulia, berdasarkan catatan, masih banyak makanan yang seharusnya masih berada di gudang. Tetapi kenyataannya sudah hilang” kata sang kancil menjelaskan kepada raja hutan.
Semua mata kemudian tertuju kepada babi dan tikus yang sudah mulai gemetar takut ketahuan. “babi tikus, apakah kamu mengetahui sesuatu?” tanya Raja Singa. Babi dan tikus terdiam, mereka akhirnya mengakui perbuatannya. “kami minta maaf, Yang Mulia. Saya mengambil makanan dari gudang untuk kepentingan perut kami sendiri. Saya juga memberikan sebagian kepada beberapa teman agar mereka menutupi perbuatan kami” kata babi dengan kepala tertunduk. Para hewan kecewa mendengar pengakuan tersebut. “Kepercayaan kami kepadamu ternyata disalahgunakan” ucap gajah sambil menggeleng-geleng kepala tidak percaya. Raja Singa kemudian memberikan hukuman kepada babi dan tikus mereka harus mengembalikan semua yang telah ambil dan membantu mengelola kembali persediaan hutan di bawah pengawasan hewan lain. Sejak saat itu, Raja Singa membuat aturan baru. Pengelolaan persediaan tidak boleh dilakukan oleh babi dan tikus, tidak ada pengulangan kembali untuk mereka menjadi penjaga gudang penyimpanan. Semua catatan harus diperiksa bersama dan setiap penggunaan makanan harus dilaporkan secara terbuka. Akhirnya semua hewan mengikhlaskan dan belajar bahwa sifat tamak akan membawa kerugian.
(Nafisa)
