GENTENG — Minggu pagi (20/9/2026), sejumlah buku berjejer bukan di dalam perpustakaan, bukan pula di ruang kelas, namun di RTH Maron Genteng. Buku-buku itu dibawa ke ruang terbuka melalui kegiatan Membaca Buku Gratis (MBG) yang digagas UKM Pers El Mizna bersama Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis (DEMA FEBI) Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi.
Sejak pukul 07.00 WIB, kegiatan mulai berlangsung. Lapak buku menjadi titik awal bagi peserta untuk memilih bacaan, membuka halaman demi halaman, kemudian berbagi cerita tentang buku yang sedang maupun telah mereka baca.
Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 09.15 WIB itu tidak dikemas dengan diskusi yang kaku. Peserta bergantian menceritakan buku yang mereka baca. Dari sana, obrolan berkembang menjadi sharing pengalaman dan hal-hal yang mereka temukan selama membaca. Sederhana memang. Tapi justru dari kesederhanaan itu, percakapan menjadi lebih cair.
MBG merupakan program kolaborasi pertama antara UKM Pers El Mizna dan DEMA FEBI UNIIB. Gagasan ini berangkat dari keinginan kedua organisasi untuk ikut merawat minat baca masyarakat Banyuwangi, khususnya mahasiswa Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi sendiri.
Sebab, bicara soal minat baca rasanya memang mudah. Mengajak orang lain membaca juga bisa dilakukan lewat banyak cara. Namun, persoalannya kembali kepada diri sendiri: sudahkah kebiasaan membaca itu benar-benar dilakukan?
Gubernur DEMA FEBI, Alvina, menyampaikan hal tersebut melalui kalimat sederhana.
“Tidak akan ada yang berubah kalau kita belum mau mencoba.”
Baginya, keinginan untuk menggerakkan orang lain agar mau membaca tidak cukup hanya dengan mengajak. Perlu ada kemauan untuk memulainya dari diri sendiri.
“Begitupun dengan kegiatan ini, kapan kita mau menggerakkan orang-orang untuk membaca kalau kita sendiri saja malas untuk mempraktikkannya,” ujar Alvina.
Kalimat itu barangkali menjadi gambaran sederhana dari kegiatan MBG pagi itu. Tidak sedang berusaha menyelesaikan persoalan minat baca dalam satu kegiatan. Tidak pula menjanjikan perubahan besar dalam waktu singkat.
MBG hanya mencoba memulai. Memulai dari sebuah lapak buku, dari orang-orang yang mau duduk dan membaca, lalu dari obrolan kecil tentang buku yang dibaca. Karena bisa jadi, kebiasaan membaca memang tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar. Kadang, ia hanya butuh ruang, buku yang terbuka, dan seseorang yang mau lebih dulu mencoba.
