Santri Hari Ini: Jangan Hanya Mewarisi Sejarah, Tapi Berani Mengubah Arah


 Hari Santri Nasional bukan sekadar peringatan tahunan yang dirayakan dengan upacara, kirab, sarung, dan peci. Lebih dari itu, HSN merupakan momentum untuk membaca kembali sejarah perjuangan santri sekaligus merefleksikan peran dan tanggung jawabnya dalam menjawab persoalan zaman. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 menjadi pengingat bahwa santri bukan kelompok yang hanya berkutat pada kitab kuning dan ruang pesantren. Santri juga memiliki peran penting dalam menjaga kemerdekaan, membela kemanusiaan, serta merawat keutuhan bangsa. Semangat inilah yang seharusnya tidak berhenti sebagai romantisme sejarah, tetapi diterjemahkan menjadi gerakan nyata.

Hari ini, kita hidup dalam zaman yang berbeda. Tantangan santri bukan lagi semata-mata perjuangan mengangkat senjata, melainkan perjuangan melawan kebodohan, disinformasi, intoleransi, korupsi, krisis moral, hingga ketimpangan sosial. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perkembangan kecerdasan buatan, santri dituntut untuk tidak hanya kuat dalam spiritualitas, tetapi juga matang dalam intelektualitas dan kritis dalam membaca realitas. 

Sebagai mahasiswa Universitas Islam Ibrahimy sekaligus bagian dari keluarga besar PK IPNU IPPNU UNIVERSITAS ISLAM IBRAHIMY BANYUWANGI (UNIIB), kita perlu menyadari bahwa identitas santri dan mahasiswa bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Tradisi keilmuan pesantren harus menjadi fondasi untuk membangun nalar kritis, bukan justru menjadi alasan untuk menutup diri dari perkembangan zaman. Sebaliknya, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan harus tetap diarahkan oleh etika, nilai kemanusiaan, serta tanggung jawab sosial.

Di sinilah organisasi pelajar dan kemahasiswaan seperti PK IPNU IPPNU UNIIB menemukan relevansinya. Organisasi tidak boleh berhenti pada rutinitas kaderisasi, seremonial, atau sekadar mengejar jabatan struktural. PK IPNU IPPNU UNIVERSITAS ISLAM IBRAHIMY BANYUWANGI (UNIIB)  harus menjadi ruang pembentukan karakter, pengasahan daya pikir, penguatan integritas, dan keberanian menyampaikan kebenaran. Sebab, kader yang besar bukan hanya mereka yang memiliki posisi, tetapi mereka yang mampu memberikan arti bagi masyarakat.

Refleksi HSN tahun ini juga seharusnya membawa kita pada pertanyaan sederhana: sudah sejauh mana ilmu yang kita pelajari memberi manfaat bagi lingkungan sekitar? Sudahkah keberadaan kita sebagai mahasiswa membawa perubahan, atau justru kita masih nyaman menjadi penonton atas persoalan bangsa?

Jangan sampai kita begitu lantang berbicara tentang perjuangan santri terdahulu, tetapi abai terhadap ketidakadilan yang terjadi hari ini. Jangan sampai kita bangga mengenakan atribut santri, tetapi kehilangan kepekaan terhadap persoalan rakyat. Sebab, esensi perjuangan bukan terletak pada simbol yang kita kenakan, melainkan pada nilai yang kita perjuangkan.

Pada akhirnya, Hari Santri Nasional harus menjadi ruang refleksi sekaligus titik tolak gerakan. Santri masa kini harus mampu merawat tradisi tanpa terjebak romantisme, menyambut modernitas tanpa kehilangan identitas, serta membangun intelektualitas tanpa meninggalkan spiritualitas.

Sebagai mahasiswa Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi, tugas kita bukan sekadar mewarisi nama besar perjuangan santri, melainkan melanjutkan nilai-nilainya melalui ilmu, integritas, keberanian berpikir, dan keberpihakan kepada masyarakat. Santri tidak cukup hanya dikenang karena sejarahnya. Santri harus dibutuhkan karena kontribusinya.

Hari Santri Nasional bukan sekadar momentum untuk mengenakan sarung, peci, membentangkan spanduk, lalu selesai dengan seremoni. HSN seharusnya menjadi ruang refleksi: sejauh mana kita benar-benar mewarisi semangat perjuangan para santri terdahulu, dan sejauh mana kita hanya menikmati kebesaran sejarah tanpa melanjutkan perjuangannya?.

 Pada 22 Oktober, kita mengenang Resolusi Jihad yang menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Namun, sejarah tidak seharusnya hanya menjadi cerita yang kita ulang setiap tahun. Sejarah mestinya menjadi kesadaran yang menggerakkan. Sebab, setiap zaman memiliki bentuk perjuangannya sendiri. Hari ini, musuh kita tidak selalu hadir dalam bentuk penjajahan fisik. Ia bisa hadir melalui ketidakjujuran yang dinormalisasi, korupsi yang merugikan rakyat, informasi palsu yang membelah masyarakat, intoleransi yang menggerus persaudaraan, serta budaya apatis yang perlahan membunuh kepedulian generasi muda. Kita hidup di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa, tetapi kemajuan informasi belum tentu berbanding lurus dengan kedewasaan berpikir. Kita begitu mudah membagikan berita, tetapi sering kali malas memeriksa kebenarannya. Kita mudah mengkritik, tetapi tidak selalu siap menawarkan solusi. Bahkan, tidak jarang ruang digital lebih ramai oleh perdebatan tentang siapa yang paling benar daripada upaya mencari kebenaran itu sendiri.

Dalam situasi semacam ini, santri dan mahasiswa tidak boleh kehilangan arah. Menjadi santri hari ini berarti memiliki keberanian untuk berpikir kritis, tetapi tetap beradab. Artinya berani bersuara, tetapi bertanggung jawab, serta mampu menguasai perkembangan zaman tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Sebagai mahasiswa Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi sekaligus bagian dari PK IPNU IPPNU UNIIB, kita perlu jujur melihat diri sendiri. Apakah kampus sudah benar-benar menjadi ruang tumbuhnya tradisi intelektual? Apakah organisasi sudah menjadi tempat menempa integritas dan keberanian berpikir, atau justru terkadang terjebak dalam rutinitas administratif, perebutan pengaruh, dan kebanggaan terhadap jabatan?

Pertanyaan ini bukan untuk menjatuhkan organisasi, melainkan sebagai bentuk kecintaan terhadap rumah perjuangan kita sendiri.

Bagi saya, organisasi ini tidak  hanya melahirkan kader yang pandai berbicara di forum, tetapi juga harus melahirkan kader yang mampu membaca persoalan masyarakat. Kader yang tidak sekadar hafal jargon perjuangan, tetapi memahami makna perjuangan. Kader yang tidak hanya hadir ketika ada kegiatan, tetapi juga hadir ketika masyarakat membutuhkan keberpihakan. IPNU IPPNU harus menjadi ruang, yang mempertemukan spiritualitas dengan intelektualitas, tradisi dengan pembaruan, serta idealisme dengan kerja nyata. Kaderisasi harus melahirkan manusia yang memiliki integritas keilmuan, bukan sekadar menambah jumlah sertifikat dan pengalaman kepanitiaan.

Sebab, kita tidak sedang kekurangan orang yang pandai berbicara tentang perubahan. Kita sedang membutuhkan lebih banyak orang yang berani memulai perubahan dari dirinya sendiri. Refleksi HSN juga mengajak kita melihat persoalan pendidikan, ketimpangan sosial, krisis lingkungan, dan masa depan generasi muda. Santri tidak boleh merasa bahwa persoalan bangsa berada terlalu jauh dari dunianya. Justru ilmu yang kita pelajari harus menjadi jembatan untuk memahami realitas dan memberikan manfaat.

Kita boleh bangga dengan sejarah besar pesantren, tetapi kebanggaan itu harus dibarengi kesediaan untuk terus belajar, mengevaluasi diri, dan memperbaiki keadaan. Merawat tradisi bukan berarti menolak perubahan. Menjadi modern bukan berarti meninggalkan akar. Yang kita butuhkan adalah kemajuan yang berkarakter, kecerdasan yang beretika, dan keberanian yang berlandaskan tanggung jawab.

Pada akhirnya, HSN bukan hanya tentang mengenang siapa santri dahulu, tetapi juga menentukan siapa santri hari ini dan akan menjadi apa santri di masa depan. Oleh karena itu, mari kita berhenti menjadikan perjuangan sekadar slogan. Mari membangun tradisi membaca, berdiskusi, menulis, mengabdi, dan berani menyampaikan kebenaran. Sebab, masa depan bangsa tidak cukup dititipkan kepada mereka yang memiliki kuasa, tetapi juga harus diperjuangkan oleh generasi yang memiliki kesadaran. Kita tidak cukup hanya menjadi pewaris sejarah perjuangan santri. Kita harus menjadi generasi yang layak dikenang karena keberanian memperjuangkan masa depan.

Oleh: Uswatun Khasannah

Lebih baru Lebih lama