Ada hal-hal yang sebenarnya sederhana, tetapi semakin sering terdengar justru semakin terasa biasa.
Salah satunya adalah cara kita berbicara!
Entah di kelas, lorong kampus, kantin, halaman, atau sekedar ketika duduk bersama teman-teman, sesekali terdengar percakapan dengan kata-kata yang cukup kasar atau jorok. Bukan lagi diucapkan dengan suara pelan dan terbatas pada lingkaran tertentu, tetapi dengan lantang, santai, bahkan seolah tidak ada yang perlu dipertimbangkan.
Tidak jarang kelompok mahasiswa berbicara dengan kata-kata yang kurang pantas untuk ruang publik. Dan yang menarik disini tidak ada tanda-tanda bahwa mereka merasa sedang melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Percakapan berlangsung begitu ringan. Seolah kata-kata tersebut hanyalah bagian biasa dari komunikasi sehari-hari. Dan di situlah persoalannya menjadi menarik. Bukan semata-mata tentang siapa yang berbicara, laki-laki atau perempuan. Bukan pula tentang siapa yang lebih banyak menggunakan kata-kata kasar.
Persoalannya adalah ketika sesuatu yang semestinya kita pertimbangkan mulai dianggap normal hanya karena terlalu sering dilakukan.
Kampus pada dasarnya bukan hanya tempat untuk memperoleh pengetahuan. Ia juga merupakan ruang sosial tempat mahasiswa belajar berinteraksi, membangun kebiasaan, menyampaikan gagasan, dan membentuk karakter.
Kita sering berbicara tentang kualitas akademik, prestasi, IPK, penelitian, organisasi, dan kemampuan berpikir kritis. Namun, ada satu hal yang terkadang luput dibicarakan. Yakni bagaimana seorang mahasiswa menggunakan bahasa ketika tidak sedang berada di ruang kelas. Sebab pendidikan tidak selalu terlihat dari seberapa banyak seseorang mengetahui sesuatu. Terkadang, pendidikan justru terlihat dari bagaimana seseorang memilih kata ketika ia bebas berbicara.
Tentu, menggunakan bahasa yang santai bersama teman bukanlah sebuah kesalahan. Setiap lingkungan pertemanan memiliki gaya komunikasi masing-masing. Bahkan bahasa informal merupakan bagian yang wajar dalam kehidupan sosial. Namun, kebebasan berbicara tidak berarti ketiadaan batas. Ada perbedaan antara berbicara santai dengan berbicara tanpa mempertimbangkan ruang, situasi, dan orang-orang di sekitar. Ruang kelas, kantin, lorong kampus, halaman kampus, dan seluruh lingkup ruang kampus adalah ruang bersama. Kita tidak pernah benar-benar tahu siapa yang sedang mendengar percakapan kita. Sesama mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, tamu kampus, atau seseorang yang mungkin memiliki pengalaman berbeda dengan kita. Yang sering kita anggap sebagai “cuma bercanda” mungkin saja terdengar berbeda bagi orang lain.
Di sinilah etika komunikasi menjadi penting. Etika bukan berarti membuat seseorang harus berbicara kaku setiap saat. Etika justru mengajarkan kita untuk mengetahui kapan harus santai, kapan harus serius, kapan boleh bercanda, dan kapan sebaiknya menahan diri. Menjadi mahasiswa berarti belajar mengelola kebebasan. Termasuk kebebasan dalam berbicara. Sebab semakin tinggi pendidikan seseorang, semestinya semakin luas pula kesadarannya terhadap dampak dari apa yang ia ucapkan. Kata-kata memang tidak selalu meninggalkan luka yang terlihat. Tetapi kata-kata dapat membentuk suasana, memengaruhi orang lain, dan perlahan-lahan membangun budaya. Jika kata-kata kasar/jorok terus diucapkan, terus didengar, dan terus dibiarkan tanpa pernah dipertanyakan, lama-kelamaan ia akan terasa biasa. Dan ketika sesuatu yang tidak pantas sudah terasa biasa, kita mungkin tidak lagi menyadari bahwa ada batas yang perlahan telah bergeser. Mungkin kita tidak perlu menjadi polisi bahasa bagi orang lain. Tidak perlu pula sibuk menghakimi siapa yang paling sopan dan siapa yang paling kasar, barangkali yang lebih penting adalah memulai dari diri sendiri. Sebelum berbicara, kita bisa bertanya sederhana:
Apakah kata ini perlu?
Apakah tempatnya tepat?
Apakah orang di sekitar kita nyaman mendengarnya?
Karena pada akhirnya, menjadi terdidik bukan hanya tentang mampu menjawab pertanyaan di ruang kelas. Tetapi juga tentang mampu memahami kapan sebuah kata sebaiknya diucapkan, dan kapan sebuah kata lebih baik disimpan. Kampus seharusnya menjadi ruang untuk tumbuh, bukan hanya dalam pengetahuan, tetapi juga dalam cara kita membawa diri. Dan mungkin, salah satu bentuk kecil dari kedewasaan akademik adalah mampu membedakan antara sesuatu yang bisa dikatakan dan sesuatu yang layak disampaikan. Sebab, tidak semua yang bisa diucapkan, layak didengar oleh ruang bersama.
Penulis: Bintang Ma'rufin Adhar
